Kisah dr. Lathifah Dzakiyah dan Change The Circle untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Majalahkartini.com – Di tengah padatnya aktivitas sebagai asisten penelitian di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan perkuliahannya di program Magister Biomedik UPN Veteran Jakarta, dr. Lathifah Dzakiyyah Zulfa, tetap meluangkan waktu untuk mengabdi kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup di Indonesia. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia itu mewujudkan misinya melalui gerakan sosial Change The Change, sebuah inisiatif program yang ia dirikan pada Desember 2020 dan terus berkembang hingga kini.
Terbentuknya gerakan ini berawal dari keprihatinan akan tingginya prevelensi stunting di daerah padat penduduk di sekitar tempatnya berkualiah. Peneliti yang akrab disapa Dzakiyyah itu memutuskan untuk bertindak dan menggabungkan pendekatan medis dengan metode edukasi kreatif. Salah satunya melalui buku mewarnai bergambar yang ia desain sendiri. Buku ini berisi cerita eduktif tentang pencegahan stunting, dilengkapi dengan alat mewarnai dan paket makanan bergizi.
“Bagi saya, mencegah stunting bukan hanya soal memberi makan anak. Hal yang paling penting justru adalah menanamkan perilaku hidup sehat sejak mereka kecil karena anak-anak ini adalah investasi masa depan,” ujar dr. Lathifah Dzakiyyah.
Program ini dijalankan setiap tiga tahun sekali dan dibagikan langsung ke anak-anak di Cawang (Jakarta Timur). Sebanyak 25 anak telah menerima manfaat dari program ini, disertai dengan pemantauan status gizi dan pemberian cemilan bergizi secara berkala.
Peran Change The Circle dr. Lathifah
Tidak hanya fokus pada anak-anak, Change The Circle juga mengkoordinasikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) gratis bagi generasi muda yang berusia di bawah 25 tahun. Pelatihan ini telah diikuti lima peserta secara tatap muka dan akan dilanjutkan dengan 30 peserta secara daring, termasuk anak dari panti asuhan dengan dukungan kuota internet gratis.
“Saya ingin anak-anak muda ini bisa menjadi penolong pertama ketika terjadi keadaan darurat. Hal ini penting sekali karena tidak semua orang tahu apa yang harus dilakukan saat ada keadaan darurat, padahal setiap detik sangat berharga. Keterampilan seperti ini bisa menyelamatkan nyawa seseorang,” ungkapnya.
Peran Change The Circle tak berhenti sampai di situ, tetapi berlanjut pada edukasi kesehatan ke taman kanak-kanak untuk mencegah penyakit cacingan. Melalui metode bermain peran, dr. Lathifah Dzakiyyah dan timnya mengajarkan anak-anak berperilaku hidup bersih untuk mencegah penyakit cacingan. Program ini telah menjangkau 380 anak dari 26 taman kanak-kanak di seluruh Indonesia. Change The Circle melibatkan 115 Mahasiswa Kedokteran yang dilatih untuk menjadi fasilitator agar edukasi ini berlanjut ke komunitas masing-masing. Program tersebut juga telah dinilai keberhasilannya dan dipresentasikan secara ilmiah di ajang Simposium Internasional.
Dzakiyyah menekankan, keberhasilan Change The Circle tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari perubahan perilaku yang tercipta di masyarakat. “Perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Jika ada satu anak berhasil tumbuh sehat karena program ini, maka hal tersebut sangat berarti bagi kami,” tegasnya.
Sebagai seorang dokter dan peneliti, dr. Lathifah Dzakiyyah telah meraih berbagai prestasi akademik dan pengalaman riset internasional, mulai dari publikasi ilmiah, presentasi di konferensi internasional, hingga penghargaan nasional. Namun baginya, peran sebagai dokter harus kembali kepada masyarakat.
“Saya tidak ingin hanya mengobagi saja. Pencegahan adalah kunci dan itu dimulai di lapangan bersama masyarakat. Kesehatan adalah tanggung jawab bersama, maka masyarakat itu sendiri yang harus mau berubah” pungkasnya.
Dengan semangat dan dedikasi yang konsisten, Change The Circle membuktikan bahwa satu individu dengan visi yang jelas bisa menciptakan perubahan nyata. Melalui program ini, dr. Lathifah Dzakiyyah Zulfa tidak hanya memutus rantai penyebaran dan pembentukan penyakit, tetapi juga membangun lingkaran kebaikan berkelanjutan di tengah masyarakat Indonesia.